Sejarah AKHKI


Asosiasi Konsultan Hak Kekayaan Intelektual (AKHKI) untuk pertama kalinya didirikan pada tanggal 15 September 2006 di Jakarta. Gagasan tersebut disampaikan oleh para praktisi hukum di bidang hak kekayaan intelektual di Indonesia yang telah mengikuti pelatihan Konsultan HKI.

AKHKI sebagai perwujudan keinginan para Konsultan HKI untuk memberikan service excellent terhadap para pengguna HKI di Indonesia. Dalam kenyataannya, selama itu dan sampai saat pembentukannya, Konsultan HKI sudah melakukan layanan pengurusan administrasi dan substansi HKI, namun tidak memiliki wadah yang ideal sebagaimana organisasi profesi sejenis di negara lain atau organisasi profesi lain yang telah mapan di Indonesia.

Deklarasi pendiriannya digagas oleh 78 Konsultan HKI di Jakarta pada tanggal 15 September 2006, yang ditindaklanjuti dengan pengesahan Anggaran Dasar dan Kode Etik Profesi pada 19 Januari 2007 dalam Rapat Umum Anggota Tahun 2007. Dalam rapat yang pertama kali tersebut, Ketua Pengurus yang terpilih adalah Chandra M. Hamzah untuk Periode 2007-2010. Sedangkan Komisi Pengawas yang terpilih sebanyak tiga orang (Ema L. Kussoy, Tantono Subagyo, dan Toety Heraty Noerhadi Rooseno) dengan Dewan Penasehat sebanyak tujuh orang (Augustaf Bertus Rikin, Cita Citrawinda Noerhadi, Gunawan Suryomurcito, Kartini Mulyadi, Setiawan Adi, Teddy Soemantry, dan Turman M. Panggabean).

Sebagai profesi baru di Indonesia, keberadaan Konsultan Hak Kekayaan Intelektual pada dasarnya telah diatur di semua perundang-undangan di bidang iekayaan intelektual di Indonesia. Konsultan Hak Kekayaan Intelektual merupakan salah satu elemen penting untuk pelaksanaan kebijakan kekayaan intelektual dan pemanfaatan sistem kekayaan intelektual di Indonesia.

Selain  menjalankan perannya sebagai mitra kerja bagi  Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual, AKHKI diharapkan dapat bersinergi dengan para pemangku kepentingan di Instansi Pemerintah, Perguruan Tinggi, Lembaga Penelitian, Besar, Kecil dan Menengah dan lain-lain.

Sejak pertama kali didirikan, AKHKI sebagai sebuah organisasi mengedepankan semangat yang tinggi dan mengedepankan prinsip-prinsip kebersamaan, sinergi dan jaringan antar sesama anggota. Dengan begitu, AKHKI akan menjadi lebih kuat dan dapat dirasakan manfaatnya oleh anggotanya. Selain itu karena setiap anggota akan menjadi bagian dari AKHKI terlepas dari latar belakang pendidikan, senioritas sebagai faktor pembeda, namun perbedaan ini menjadi landasan yang kuat untuk memperkuat AKHKI dan anggota yang ada di dalamnya.

Sebagai organisasi profesi, anggota AKHKI juga bekerja secara profesional karena AKHKI sudah memiliki Kode Etik Konsultan Hak Kekayaan Intelektual sebagai dasar moral dan etika bagi semua Konsultan Hak Kekayaan Intelektual sebagai anggota AKHKI. Tujuan AKHKI di masa depan adalah menjadi salah satu organisasi profesi yang memiliki posisi strategis dan peran di tingkat nasional dan internasional.

© 2017 Asosiasi Konsultan Hak Kekayaan Intelektual Indonesia. Hak Cipta Dilindungi